Tampilkan postingan dengan label cerita bermakna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita bermakna. Tampilkan semua postingan

Kamis, Mei 14, 2009

Mampukan Kita Mencintai Tanpa Syarat?


Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi. Usia yang sudah senja bahkan sudah mendekati malam. Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit. Istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun.
Mereka dikaruniai 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba - tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.


Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, Dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.
Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha Pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa - apa saja yang dia alami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan keempat buah hati mereka, sekarang anak - anak mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yang masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak Suyatno berkumpul di rumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing - masing dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yang merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yang cukup hati - hati anak yang sulung berkata ” Pak kami ingin sekali merawat ibu semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……. ..bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu”.

Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata - katanya “Sudah yang keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”.

Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak - anak mereka. “Anak – anakku… Jikalau perkawinan dan hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah… tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian… Semenjak kerongkongannya tersekat… kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini. Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah batin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaannya sekarang? Kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit?”

Sejenak meledaklah tangis anak - anak pak Suyatno merekapun melihat butiran – butiran kecil jatuh dipelupuk mata Ibu Suyatno… dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu.

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yang sudah tidak bisa apa – apa.

Di saat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru di situlah Pak Suyatno bercerita, “Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) adalah kesia-siaan.

Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan batinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yang lucu – lucu.

Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya, apalagi dia sakit…”


Sumber :
http://www.sungaibaru.com
Baca Selengkapnya...

Cinta Tanpa Syarat


Dikisahkan, ada sebuah keluarga besar. Kakek dan nenek mereka merupakan pasangan suami istri yang tampak serasi dan selalu harmonis satu sama lain. Suatu hari, saat berkumpul bersama, si cucu bertanya kepada mereka berdua, “Kakek nenek, tolong beritahu kepada kami resep akur dan cara kakek dan nenek mempertahan cinta selama ini agar kami yang muda-muda bisa belajar.”

Mendengar pertanyaan itu, sesaat kakek dan nenek beradu pandang sambil saling melempar senyum. Dari tatapan keduanya, terpancar rasa kasih yang mendalam di antara mereka. “Aha, nenek yang akan bercerita dan menjawab pertanyaan kalian,” kata kakek.

Sambil menerawang ke masa lalu, nenek pun memulai kisahnya. “Ini pengalaman kakek dan nenek yang tak mungkin terlupakan dan rasanya perlu kalian dengar dengan baik. Suatu hari, kami berdua terlibat obrolan tentang sebuah artikel di majalah yang berjudul ‘bagaimana memperkuat tali pernikahan’. Di sana dituliskan, masing-masing dari kita diminta mencatat hal-hal yang kurang disukai dari pasangan kita.

Kemudian, dibahas cara untuk mengubahnya agar ikatan tali pernikahan bisa lebih kuat dan bahagia. Nah, malam itu, kami sepakat berpisah kamar dan mencatat apa saja yang tidak disukai. Esoknya, selesai sarapan, nenek memulai lebih dulu membacakan daftar dosa kakekmu sepanjang kurang lebih tiga halaman. Kalau dipikir-pikir, ternyata banyak juga, dan herannya lagi, sebegitu banyak yang tidak disukai, tetapi tetap saja kakek kalian menjadi suami tercinta nenekmu ini,” kata nenek sambil tertawa. Mata tuanya tampak berkaca-kaca mengenang kembali saat itu.

Lalu nenek melanjutkan, “Nenek membacanya hingga selesai dan kelelahan. Dan, sekarang giliran kakekmu yang melanjutakan bercerita.” Dengan suara perlahan, si kakek meneruskan. “Pagi itu, kakek membawa kertas juga, tetapi….kosong. Kakek tidak mencatat sesuatu pun di kertas itu. Kakek merasa nenekmu adalah wanita yang kakek cintai apa adanya, kakek tidak ingin mengubahnya sedikit pun. Nenekmu cantik, baik hati, dan mau menikahi kakekmu ini, itu sudah lebih dari cukup bagi kakek.”

Nenek segera menimpali, “Nenek sungguh sangat tersentuh oleh pernyataan kakekmu itu sehingga sejak saat itu, tidak ada masalah atau sesuatu apapun yang cukup besar yang dapat menyebabkan kami bertengkar dan mengurangi perasaan cinta kami berdua.”

Pembaca yang budiman,

Sering kali di kehidupan ini, kita lebih banyak menghabiskan waktu dan energi untuk memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan dan yang menyakitkan. Padahal, pada saat yang sama kita pun sebenarnya punya kemampuan untuk bisa menemukan banyak hal indah di sekeliling kita.

Saya yakin dan percaya, kita akan menjadi manusia yang berbahagia jika kita mampu berbuat, melihat, dan bersyukur atas hal-hal baik di kehidupan ini dan senantiasa mencoba untuk melupakan yang buruk yang pernah terjadi. Dengan demikian, hidup akan dipenuhi dengan keindahan, pengharapan, dan kedamaian.

Salam sukses luar biasa!!!


Sumber:
http://www.andriewongso.com
Baca Selengkapnya...

Sabtu, Mei 09, 2009

"Naasnya Hari Itu"


hehheheehheh ... pOkOknya hari itu tepatnya hari Kamis, tanggal 07 mei 2009. Hari naas buat nDung n temanku Yeni. Rencananya mau ngelamar kerja nich, akhirnya kita janjian berangkat pagi². Dan aku dah janjian di suatu tempat sama Yeni untuk ketemu . Berangkatlah menuju tempat yeni menungguku :D Nggak tahunya belum sampek depan perumahan ban sepeda motor ku bOcor .... waduuuuuuuuuh. Gimana ini?? untung ada tukang tambal ban terdekat, jadi nDung nggak jauh - jauh mendorong nich sepeda motor. Sampai di Tukang tamabal Ban , aku liat ada 1 orang yang masih nambalkan ban nya. Tapi nich Tukang Tambal Ban luuama banget ngerjakannya.

nDung berfikir?? Apa karena aku yang diburu waktu atau pak Tukang Tambal Bannya yang pelan - pelan. Duh .. aku gelisah, mana jam hampir jam 09:00. Padahal janjiannya jam 08:00 pagi. Aku telpon teman Yeni , bilang kalau ban sepeda motor ku bocor. Dia mau menunggu ... tapi ternyata nih Tambal Ban luuama banget .. uhuks uhuks.

Akhirnya giliran sepeda ku yang di kerjakan, dan katanya cuknya jebol. Waduh harus ganti nich. Berhubung jauh beli bannya, aku suruh aja nambah dulu, soalnya aku terburu - buru. Dan ternyata yeni nggak tahan nunggu, karena perutnya sakit :D:D. Akhirnya dia pulang dulu deech ke rumah . wekekekkekekeekkeDan
Dan setelah menunggu 1 jam lebih , akhirnya selesai juga sepeda ku di tambal bannya. waktu itu dah jam 09:30 lebih kalau nggak salah. yaach gagal ndeh ngelamar kerja yang diharuskan datang pagi - pagi itu. Tapi kita masih ada lowongan lagi yang mau di lamar, dan aku berangkatlah menuju ruamh yeni dengan semangatnya.

Dan sampai di rumah yeni, Aku liat ntuh Ban sepeda ... Waduuuuuuuuuuuuuh .. kOk bocor lagi . Apes daaach. Aku bilang ke Yeni .. "Yen , ban ne bOcor lagi"
Yeni : kok bisa mbak,
nDung : nggak tahu, mang dasar e minta ganti ban sepeda motorku yen.

Karena masih ada semangat, akhirnya kita sepakat nambalkan ban lagi, yaach kali ini lumayan jauh juga ngedorong sepeda motornya ... sampek wajah kumus² ... huhahhhaahahahah. Nasib .. Nasib ... !!!!!
Tapi kita tetap semangat dan tetap tertawa. Dan ternyata ntuh ban bocor 1 lagi. byuuh ... byuh. Apes tenan Ban sepeda motor ku ini.

Memang seeh waktunya mengganti Ban Luar dan Ban Dalam. Tapi loom aku ganti - ganti. wekekkkekekekeke, maafkan aku sepeda motor_Q.
Setelah selesai tambah ban, berangkatlah kita melanjutkan perjuangan kita untuk ngelamar kerjaan. Dengan mengucapkan semoga nggak bOcOr lagi nih Ban. huhhehheheheheheehehehehehe.
Alhamdullillah sampai rumah Ban sepeda motor ku nggak bocor lagi. Tapi Lamaran kerja kita hari itu lom ada yang ke terima (cuma naruh aja). ihiks ihiks.

"Tapi semua itu bisa di ambil hikmahnya. Agar kalian nggak mencontoh aku, kalau ban sepeda motor kalian dah waktunya diganti Bannya, langsung di ganti aja, jangan di tunda-tunda, agar tidak mengalami nasib seperti nDung . wekkekekeekekekekekekke".
Baca Selengkapnya...

Minggu, Maret 29, 2009

Berbicaralah supaya dapat dimengerti


Kisah ini aku dapat kan dari teman² yang di kirimkan lewat email. Nggak tahu pertama kali siapa yang ngirim ... tapi kisah di bawah ini sangat² bermanfaat bagi kita semua. Kisah yang mengharukan dan menyedihkan.
Bagi² yang belom baca kisah ini , silahkan di baca ... semOga dapat di ambil hikmahnya dari kisah ini
.

"Berbicaralah supaya dapat dimengerti"

Sebuah kisah salah pengertian yg mengakibatkan kehancuran sebuah rumah tangga.

Tatkala nilai akhir sebuah kehidupan sudah terbuka, tetapi segalanya sudah terlambat. Membawa nenek utk tinggal bersama menghabiskan masa tuanya bersama kami, malah telah mengkhianati ikrar cinta yg telah kami buat selama ini,setelah 2 tahun menikah, saya dan suami setuju menjemput nenek di kampung utk tinggal bersama.
Sejak kecil suami saya telah kehilangan ayahnya, dia adalah satu-satunya harapan nenek, nenek pula yg membesarkannya dan menyekolahkan dia hingga tamat kuliah.

Saya terus mengangguk tanda setuju, kami segera menyiapkan sebuah kamar yg menghadap taman untuk nenek, agar dia dapat berjemur, menanam bunga dan sebagainya. Suami berdiri didepan kamar yg sangat kaya dgn sinar matahari, tidak sepatah katapun yg terucap tiba-tiba saja dia mengangkat saya dan memutar-mutar saya seperti adegan dalam film India dan berkata: "Mari,kita jemput nenek di kampung".


Suami berbadan tinggi besar, aku suka sekali menyandarkan kepalaku ke dadanya yg bidang, ada suatu perasaan nyaman dan aman disana. Aku seperti sebuah boneka kecil yg kapan saja bisa diangkat dan dimasukan kedalam kantongnya. Kalau terjadi selisih paham diantara kami, dia suka tiba-tiba mengangkatku tinggi-tinggi diatas kepalanya dan diputar-putar sampai aku berteriak ketakutan baru diturunkan. Aku sungguh menikmati saat-saat seperti itu.

Kebiasaan nenek di kampung tidak berubah. Aku suka sekali menghias rumah dengan bunga segar, sampai akhirnya nenek tidak tahan lagi dan berkata kepada suami:"Istri kamu hidup foya-foya, buat apa beli bunga? Kan bunga tidak bisa dimakan?" Aku menjelaskannya kepada nenek: "Ibu, rumah dengan bunga segar membuat rumah terasa lebih nyaman dan suasana hati lebih gembira". Nenek berlalu sambil mendumel, suamiku berkata sambil tertawa: "Ibu, ini kebiasaan orang kota , lambat laun ibu akan terbiasa juga."

Nenek tidak protes lagi, tetapi setiap kali melihatku pulang sambil membawa bunga, dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya berapa harga bunga itu, setiap mendengar jawabanku dia selalu mencibir sambil menggeleng-gelengka n kepala. Setiap membawa pulang barang belanjaan,dia selalu tanya itu berapa harganya, ini berapa. Setiap aku jawab, dia selalu berdecak dengan suara keras. Suamiku memencet hidungku sambil berkata: "Putriku, kan kamu bisa berbohong. Jangan katakan harga yang sebenarnya." Lambat laun, keharmonisan dalam rumah tanggaku mulai terusik.

Nenek sangat tidak bisa menerima melihat suamiku bangun pagi menyiapkan sarapan pagi untuk dia sendiri, di mata nenek seorang anak laki-laki masuk ke dapur adalah hal yang sangat memalukan. Di meja makan, wajah nenek selalu cemberut dan aku sengaja seperti tidak mengetahuinya. Nenek selalu membuat bunyi-bunyian dengan alat makan seperti sumpit dan sendok, itulah cara dia protes.

Aku adalah instrukstur tari, seharian terus menari membuat badanku sangat letih, aku tidak ingin membuang waktu istirahatku dengan bangun pagi apalagi disaat musim dingin. Nenek kadang juga suka membantuku di dapur, tetapi makin dibantu aku menjadi semakin repot, misalnya: dia suka menyimpan semua kantong-kantong bekas belanjaan, dikumpulkan bisa untuk dijual katanya. Jadilah rumahku seperti tempat pemulungan kantong plastik, dimana-mana terlihat kantong plastik besar tempat semua kumpulan kantong plastik.

Kebiasaan nenek mencuci piring bekas makan tidak menggunakan cairan pencuci, agar supaya dia tidak tersinggung, aku selalu mencucinya sekali lagi pada saat dia sudah tidur. Suatu hari, nenek mendapati aku sedang mencuci piring malam harinya, dia segera masuk ke kamar sambil membanting pintu dan menangis. Suamiku jadi serba salah, malam itu kami tidur seperti orang bisu, aku coba bermanja-manja dengan dia, tetapi dia tidak perduli. Aku menjadi kecewa dan marah."Apa salahku?" Dia melotot sambil berkata: "Kenapa tidak kamu biarkan saja? Apakah memakan dengan piring itu bisa membuatmu mati?"

Aku dan nenek tidak bertegur sapa untuk waktu yg culup lama, suasana menjadi kaku. Suamiku menjadi sangat kikuk, tidak tahu harus berpihak pada siapa? Nenek tidak lagi membiarkan suamiku masuk ke dapur, setiap pagi dia selalu bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan untuknya, suatu kebahagiaan terpancar di wajahnya jika melihat suamiku makan dengan lahap, dengan sinar mata yang seakan mencemohku sewaktu melihat padaku, seakan berkata dimana tanggung jawabmu sebagai seorang istri?

Demi menjaga suasana pagi hari agar tidak terganggu, aku selalu membeli makanan diluar pada saat berangkat kerja. Saat tidur, suami berkata:"Luci, apakah kamu merasa masakan ibu tidak enak dan tidak bersih sehingga kamu tidak pernah makan di rumah?" sambil memunggungiku dia berkata tanpa menghiraukan air mata yg mengalir di kedua belah pipiku. Dan dia akhirnya berkata: "Anggaplah ini sebuah permintaanku, makanlah bersama kami setiap pagi". Aku mengiyakannya dan kembali ke meja makan yg serba canggung itu.

Pagi itu nenek memasak bubur, kami sedang makan dan tiba-tiba ada suatu perasaan yg sangat mual menimpaku, seakan-akan isi perut mau keluar semua. Aku menahannya sambil berlari ke kamar mandi, sampai disana aku segera mengeluarkan semua isi perut. Setelah agak reda, aku melihat suamiku berdiri didepan pintu kamar mandi dan memandangku dengan sinar mata yg tajam, diluar sana terdengar suara tangisan nenek dan berkata-kata dengan bahasa daerahnya. Aku terdiam dan terbengong tanpa bisa berkata-kata. Sungguh bukan sengaja aku berbuat demikian!

Pertama kali dalam perkawinanku, aku bertengkar hebat dengan suamiku, nenek melihat kami dengan mata merah dan berjalan menjauh…… suamiku segera mengejarnya keluar rumah. Menyambut anggota baru tetapi dibayar dengan nyawa nenek.

Selama 3 hari suamiku tidak pulang ke rumah dan tidak juga meneleponku. Aku sangat kecewa, semenjak kedatangan nenek di rumah ini, aku sudah banyak mengalah, mau bagaimana lagi? Entah kenapa aku selalu merasa mual dan kehilangan nafsu makan ditambah lagi dengan keadaan rumahku yang kacau, sungguh sangat menyebalkan. Akhirnya teman sekerjaku berkata:"Luci, sebaiknya kamu periksa ke dokter". Hasil pemeriksaan menyatakan aku sedang hamil. Aku baru sadar mengapa aku mual-mual pagi itu. Sebuah berita gembira yg terselip juga kesedihan.. Mengapa suami dan nenek sebagai orang yg berpengalaman tidak berpikir sampai sejauh itu?

Di pintu masuk rumah sakit aku melihat suamiku, 3 hari tidak bertemu dia berubah drastis, muka kusut kurang tidur, aku ingin segera berlalu tetapi rasa iba membuatku tertegun dan memanggilnya. Dia melihat ke arahku tetapi seakan akan tidak mengenaliku lagi, pandangan matanya penuh dengan kebencian dan itu melukaiku. Aku berkata pada diriku sendiri, jangan lagi melihatnya dan segera memanggil taksi. Padahal aku ingin memberitahunya bahwa kami akan segera memiliki seorang anak. Dan berharap aku akan diangkatnya tinggi-tinggi dan diputar-putar sampai aku minta ampun tetapi..... mimpiku tidak menjadi kenyataan. Didalam taksi air mataku mengalir dengan deras. Mengapa kesalah pahaman ini berakibat sangat buruk?

Sampai di rumah aku berbaring di ranjang memikirkan peristiwa tadi, memikirkan sinar matanya yg penuh dengan kebencian, aku menangis dengan sedihnya. Tengah malam,aku mendengar suara orang membuka laci, aku menyalakan lampu dan melihat dia dgn wajah berlinang air mata sedang mengambil uang dan buku tabungannya. Aku nenatapnya dengan dingin tanpa berkata-kata.. Dia seperti tidak melihatku saja dan segera berlalu. Sepertinya dia sudah memutuskan utk meninggalkan aku. Sungguh lelaki yg sangat picik, dalam saat begini dia masih bisa membedakan antara cinta dengan uang. Aku tersenyum sambil menitikan air mata.

Aku tidak masuk kerja keesokan harinya, aku ingin secepatnya membereskan masalah ini, aku akan membicarakan semua masalah ini dan pergi mencarinya di kantornya.Di kantornya aku bertemu dengan seketarisnya yg melihatku dengan wajah bingung."Ibunya pak direktur baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas dan sedang berada di rumah sakit. Mulutku terbuka lebar. Aku segera menuju rumah sakit dan saat menemukannya, nenek sudah meninggal. Suamiku tidak pernah menatapku, wajahnya kaku. Aku memandang jasad nenek yg terbujur kaku.. Sambil menangis aku menjerit dalam hati: "Tuhan, mengapa ini bisa terjadi?"

Sampai selesai upacara pemakaman, suamiku tidak pernah bertegur sapa denganku, jika memandangku selalu dengan pandangan penuh dengan kebencian. Peristiwa kecelakaan itu aku juga tahu dari orang lain, pagi itu nenek berjalan ke arah terminal, rupanya dia mau kembali ke kampung. Suamiku mengejar sambil berlari, nenek juga berlari makin cepat sampai tidak melihat sebuah bus yg datang ke arahnya dengan kencang. Aku baru mengerti mengapa pandangan suamiku penuh dengan kebencian. Jika aku tidak muntah pagi itu, jika kami tidak bertengkar, jika........ .... dimatanya, akulah penyebab kematian nenek.

Suamiku pindah ke kamar nenek, setiap malam pulang kerja dengan badan penuh dengan bau asap rokok dan alkohol. Aku merasa bersalah tetapi juga merasa harga diriku terinjak-injak. Aku ingin menjelaskan bahwa semua ini bukan salahku dan juga memberitahunya bahwa kami akan segera mempunyai anak. Tetapi melihat sinar matanya, aku tidak pernah menjelaskan masalah ini. Aku rela dipukul atau dimaki-maki olehnya
walaupun ini bukan salahku. Waktu berlalu dengan sangat lambat. Kami hidup serumah tetapi seperti tidak mengenal satu sama lain. Dia pulang makin larut malam. Suasana tegang didalam rumah.

Suatu hari, aku berjalan melewati sebuah café, melalui keremangan lampu dan kisi-kisi jendela, aku melihat suamiku dengan seorang wanita didalam. Dia sedang menyibak rambut sang gadis dengan mesra.. Aku tertegun dan mengerti apa yg telah terjadi. Aku masuk kedalam dan berdiri di depan mereka sambil menatap tajam kearahnya. Aku tidak menangis juga tidak berkata apapun karena aku juga tidak tahu harus berkata apa. Sang gadis melihatku dan ke arah suamiku dan segera hendak berlalu. Tetapi dicegah oleh suamiku dan menatap kembali ke arahku dengan sinar mata yg tidak kalah tajam dariku. Suara detak jantungku terasa sangat keras, setiap detak suara seperti suara menuju kematian.

Akhirnya aku mengalah dan berlalu dari hadapan mereka, jika tidak.. mungkin aku akan jatuh bersama bayiku dihadapan mereka. Malam itu dia tidak pulang ke rumah. Seakan menjelaskan padaku apa yang telah terjadi. Sepeninggal nenek, rajutan cinta kasih kami juga sepertinya telah berakhir. Dia tidak kembali lagi ke rumah, kadang sewaktu pulang ke rumah, aku mendapati lemari seperti bekas dibongkar.

Aku tahu dia kembali mengambil barang-barang keperluannya. Aku tidak ingin menelepon dia walaupun kadang terbersit suatu keinginan untuk menjelaskan semua ini. Tetapi itu tidak terjadi..... ...., semua berlalu begitu saja.. ...
Aku mulai hidup seorang diri, pergi check kandungan seorang diri. Setiap kali melihat sepasang suami istri sedang check kandungan bersama, hati ini serasa hancur. Teman-teman menyarankan agar aku membuang saja bayi ini, tetapi aku seperti orang yg sedang histeris mempertahankan miliknya. Hitung-hitung sebagai pembuktian kepada nenek bahwa aku tidak bersalah.

"Suatu hari pulang kerja, aku melihat dia duduk didepan ruang tamu.. Ruangan penuh dengan asap rokok dan ada selembar kertas diatas meja, tidak perlu tanya aku juga tahu surat apa itu. 2 bulan hidup sendiri, aku sudah bisa mengontrol emosi. Sambil membuka mantel dan topi aku berkata kepadanya: "Tunggu sebentar, aku akan segera menanda tanganinya". Dia melihatku dengan pandangan awut-awutan demikian juga aku. Aku berkata pada diri sendiri, jangan menangis, jangan menangis. Mata ini terasa sakit sekali tetapi aku terus bertahan agar air mata ini tidak keluar.

Selesai membuka mantel, aku berjalan ke arahnya dan ternyata dia memperhatikan perutku yg agak membuncit. Sambil duduk di kursi, aku menanda tangani surat itu dan menyodorkan kepadanya."Luci, kamu hamil?" Semenjak nenek meninggal, itulah pertama kali dia berbicara kepadaku. Aku tidak bisa lagi membendung air mataku yg mengalir keluar dengan derasnya. Aku menjawab: "Iya, tetapi tidak apa-apa. Kamu sudah boleh pergi". Dia tidak pergi, dalam keremangan ruangan kami saling berpandangan. Perlahan-lahan dia membungkukan badannya ke tanganku, air matanya terasa menembus lengan bajuku. Tetapi di lubuk hatiku, semua sudah berlalu, banyak hal yg sudah pergi dan tidak bisa diambil kembali.

Entah sudah berapa kali aku mendengar dia mengucapkan kata: "Maafkan aku, maafkan aku". Aku pernah berpikir untuk memaafkannya tetapi tidak bisa. Tatapan matanya di cafe itu tidak akan pernah aku lupakan. Cinta diantara kami telah ada sebuah luka yg menganga. Semua ini adalah sebuah akibat kesengajaan darinya. Berharap dinding es itu akan mencair, tetapi yang telah berlalu tidak akan pernah kembali. Hanya sewaktu memikirkan bayiku, aku bisa bertahan untuk terus hidup. Terhadapnya, hatiku dingin bagaikan es, tidak pernah menyentuh semua makanan pemberian dia, tidak menerima semua hadiah pemberiannya tidak juga berbicara lagi dengannya. Sejak menanda tangani surat itu, semua cintaku padanya sudah berlalu, harapanku telah lenyap tidak berbekas.

Kadang dia mencoba masuk ke kamar untuk tidur bersamaku, aku segera berlalu ke ruang tamu, dia terpaksa kembali ke kamar nenek. Malam hari, terdengar suara orang mengerang dari kamar nenek tetapi aku tidak perduli. Itu adalah permainan dia dari dulu. Jika aku tidak perduli padanya, dia akan berpura-pura sakit sampai aku menghampirinya dan bertanya apa yang sakit. Dia lalu akan memelukku sambil tertawa terbahak-bahak. Dia lupa........ , itu adalah dulu, saat cintaku masih membara, sekarang apa lagi yg aku miliki?

Begitu seterusnya, setiap malam aku mendengar suara orang mengerang sampai anakku lahir. Hampir setiap hari dia selalu membeli barang-barang perlengkapan bayi, perlengkapan anak-anak dan buku-buku bacaan untuk anak-anak. Setumpuk demi setumpuk sampai kamarnya penuh sesak dengan barang-barang. Aku tahu dia mencoba menarik simpatiku tetapi aku tidak bergeming. Terpaksa dia mengurung diri dalam kamar, malam hari dari kamarnya selalu terdengar suara pencetan keyboard komputer. Mungkin dia lagi tergila-gila chatting dan berpacaran di dunia maya pikirku. Bagiku itu bukan lagi suatu masalah.

Suatu malam di musim semi, perutku tiba-tiba terasa sangat sakit dan aku berteriak dengan suara yg keras. Dia segera berlari masuk ke kamar, sepertinya dia tidak pernah tidur. Saat inilah yg ditunggu-tunggu olehnya. Aku digendongnya dan berlari mencari taksi ke rumah sakit. Sepanjang jalan, dia mengenggam dengan erat tanganku, menghapus keringat dingin yg mengalir di dahiku. Sampai di rumah sakit, aku segera
digendongnya menuju ruang bersalin. Di punggungnya yg kurus kering, aku terbaring dengan hangat dalam dekapannya. Sepanjang hidupku, siapa lagi yg mencintaiku sedemikian rupa jika bukan dia?

Sampai dipintu ruang bersalin, dia memandangku dengan tatapan penuh kasih sayang saat aku didorong menuju persalinan, sambil menahan sakit aku masih sempat tersenyum padanya.. Keluar dari ruang bersalin, dia memandang aku dan anakku dengan wajah penuh dengan air mata sambil tersenyum bahagia. Aku memegang tangannya, dia membalas memandangku dengan bahagia, tersenyum dan menangis lalu terjerambab ke lantai. Aku berteriak histeris memanggil namanya.

Setelah sadar, dia tersenyum tetapi tidak bisa membuka matanya…… aku pernah berpikir tidak akan lagi meneteskan sebutir air matapun untuknya, tetapi kenyataannya tidak demikian, aku tidak pernah merasakan sesakit seperti saat ini. Kata dokter, kanker hatinya sudah sampai pada stadium mematikan, bisa bertahan sampai hari ini sudah merupakan sebuah mukjizat. Aku tanya kapankah kanker itu terdeteksi? 5 bulan yg lalu kata dokter, bersiap-siaplah menghadapi kemungkinan terburuk. Aku tidak lagi peduli dengan nasehat perawat, aku segera pulang ke rumah dan ke kamar nenek lalu menyalakan komputer.

Ternyata selama ini suara orang mengerang adalah benar apa adanya, aku masih berpikir dia sedang bersandiwara…… Sebuah surat yg sangat panjang ada di dalam komputer yg ditujukan kepada anak kami. "Anakku, demi dirimu aku terus bertahan, sampai aku bisa melihatmu. Itu adalah harapanku.. Aku tahu dalam hidup ini, kita akan menghadapi semua bentuk kebahagiaan dan kekecewaan, sungguh bahagia jika aku bisa melaluinya bersamamu tetapi ayah tidak mempunyai kesempatan untuk itu.. Didalam komputer ini, ayah mencoba memberikan saran dan nasehat terhadap segala kemungkinan hidup yg akan kamu hadapi. Kamu boleh mempertimbangkan saran ayah. "Anakku, selesai menulis surat ini, ayah merasa telah menemanimu hidup selama bertahun-tahun. Ayah sungguh bahagia. Cintailah ibumu, dia sungguh menderita, dia adalah orang yg paling mencintaimu dan adalah orang yg paling ayah cintai".

Mulai dari kejadian yg mungkin akan terjadi sejak TK , SD , SMP, SMA sampai kuliah, semua tertulis dengan lengkap didalamnya. Dia juga menulis sebuah surat untukku. "Kasihku, dapat menikahimu adalah hal yg paling bahagia aku rasakan dalam hidup ini. Maafkan salahku, maafkan aku tidak pernah memberitahumu tentang penyakitku. Aku tidak mau kesehatan bayi kita terganggu oleh karenanya. Kasihku, jika engkau menangis sewaktu membaca surat ini, berarti kau telah memaafkan aku. Terima kasih atas cintamu padaku selama ini. Hadiah-hadiah ini aku tidak punya kesempatan untuk memberikannya pada anak kita.. Pada bungkusan hadiah tertulis semua tahun pemberian padanya".

Kembali ke rumah sakit, suamiku masih terbaring lemah. Aku menggendong anak kami dan membaringkannya diatas dadanya sambil berkata: "Sayang, bukalah matamu sebentar saja, lihatlah anak kita. Aku mau dia merasakan kasih sayang dan hangatnya pelukan ayahnya". Dengan susah payah dia membuka matanya, tersenyum... ....... anak itu tetap dalam dekapannya, dengan tangannya yg mungil memegangi tangan ayahnya yg kurus dan lemah. Tidak tahu aku sudah menjepret berapa kali momen itu dengan kamera di tangan sambil berurai air mata........ .........

Teman2 terkasih, aku sharing cerita ini kepada kalian, agar kita semua bisa menyimak pesan dari cerita ini. Mungkin saat ini air mata kalian sedang jatuh mengalir atau mata masih sembab sehabis menangis, ingatlah pesan dari cerita ini:
"Jika ada sesuatu yg mengganjal di hati diantara kalian yg saling mengasihi, sebaiknya utarakanlah jangan simpan didalam hati".

Siapa tau apa yg akan terjadi besok? Ada sebuah pertanyaan: Jika kita tahu besok adalah hari kiamat, apakah kita akan menyesali semua hal yg telah kita perbuat? atau apa yg telah kita ucapkan? Sebelum segalanya menjadi terlambat, pikirlah matang2 semua yg akan kita lakukan sebelum kita menyesalinya seumur hidup.
Baca Selengkapnya...

Rabu, September 10, 2008

Cuma Laki-laki Biasa

Cinta memang butuh Pengorbanan……seperti dalam kisah Cerpen berikut ini…selamat menbaca…


NATA
Aku cuma laki-laki biasa. Wajah yang biasa-biasa saja, rumah yang biasa-biasa saja, dan ketebalan dompet yang setiap harinya sangat biasa-biasa saja. Hanya ada dua hal yang aku rasa sangat luar biasa di hidupku, perempuanku dan calon ibu mertuaku.
Perempuanku, gadis manis berambut ikal yang sudah dua tahun menghiasi hari-hariku. Kehadiran, ditambah auranya yang luar biasa, berhasil membuat semua menjadi beyond my imagination.

Dulu, bermimpi memilikinya pun aku tidak berani. Dia terlalu hebat di mataku, dan ditambah dia sudah mempunyai kekasih. Aku pun waktu itu sudah punya anjing betina (sebutan yang aku simpan baik-baik dalam kepala), seorang perempuan biasa-biasa saja, dengan kestabilan emosi yang menyamai anjing betina setelah melahirkan. Dengan berbekal keberanian yang terhimpun secara tiba-tiba dan terpaksa (karena melihat kesempatan dalam kesempitan), aku mendekati dan sukses mendapatkan hatinya.
Calon ibu mertuaku, perempuan berumur 45 tahun, mengaku berjiwa muda dan tidak mau kalah dengan anak-anak gadisnya. Mengaku demokratis, padahal masih menganut paham kuno orang timur zaman dulu.


Perempuan yang sudah tiga tahun menjanda dan masih mempertahankan budaya konsumerisme dalam harga dirinya. Menilai semua orang dari bibit, bebet, dan bobot. Tidak terkecuali aku. Orang yang biasa-biasa saja, yang menurut beliau sangat tidak pantas bersanding dengan anaknya.

“Apa sih yang kamu cari dari laki-laki macam dia?” tanyanya keras pada perempuanku yang tanpa gentar membalas tatapan garang ibunya.

“Nggak semuanya harus dipandang dari harta, Ma!” balasnya tak kalah ketus.
“Berani jawab kamu ya! Dasar anak bajingan! Anak setan!” calon mertuaku mulai kalap, mengata-ngatai perempuanku dengan segenap makian dari semua bahasa di dunia yang dia tahu. Belum lagi ditambah penyebutan semua binatang yang ada di Kebun Binatang Ragunan.

“Jangan harap Mama mau merestui kamu sama monyet hitam itu,” teriaknya mengakhiri sambil membanting pintu kamar.
Kembali padaku, laki-laki biasa. Nasib baik yang tak kunjung datang, membawaku kepada kenyataan bahwa aku belum punya pekerjaan. Sekeras aku mencari, sekeras itu pula pintu ditutup di depan mukaku.
Orang-orang yang berpaham judge the book by its cover serasa memutuskan untuk tidak menerima aku sebagai karyawan. Akhirnya, terdamparlah aku di sini. Toko baju yang memberiku gaji terlalu rendah daripada UMR yang sudah rendah. Toko baju milik calon ibu mertuaku. Sial!

“Nata, kita putus saja,” kata perempuanku pada suatu malam.
“Hah?” Air mukaku yang berubah pucat menjawab.

“Aku nggak tahan sama tekanan Mama. Aku ingin bebas dari semua,” jelasnya sambil menunduk memandang lantai.

“Jangan ambil keputusan itu, Sayang!” seruku sambil memeluknya.
Ya, aku menghiba agar dia tidak pergi dariku. Tak tebersit rasa malu karena memang aku membutuhkannya.

“Awal tahun depan, kamu harus sudah dapat kerja. Kalau nggak, kita sudahi semuanya. Aku berhak untuk bahagia!” katanya sambil menangis.

Dia memberiku deadline. Perempuanku memberiku ultimatum. Tidak dapat kupercaya sekaligus memaklumi tindakannya. Apa yang bisa diharapkan dari laki-laki biasa macam aku? Membelikannya sesuatu saja tidak bisa dan bahkan tidak pernah. Hanya lulusan SMU, yang tentu saja tidak sebanding dengannya yang calon sarjana di universitas paling bergengsi di kota ini.
Malam itu, aku tidak bisa memejamkan mata. Bayangan perempuanku serasa melekat erat di ujung pelupuk mataku. Habis rasanya air mata untuk menangisi nasib. “Tentu saja aku mau berubah. Tapi, nasib baik yang rasanya malas mendekati laki-laki biasa seperti aku,” kataku pada diri sendiri.

Sudah seperti orang gila saja aku malam itu. Membenamkan kepala ke dalam bantal dan berteriak sekeras-kerasnya, menghantamkan tinju ke tembok sekeras-kerasnya, menangis deras tanpa suara.
Bermalam-macam setelah itu, nasib baik tak kunjung datang. Hubunganku dengan perempuanku dan calon ibu mertua malah memburuk dari waktu ke waktu. Sampai datang tawaran untuk bekerja. Bekerja jauh, di Dubai.

“Ada saudara yang mengajak kerja di sana.” Aku menjelaskan pada perempuanku. Dia diam sejenak kemudian menjawab, “Ya nggak apa-apa, kan kamu cari uang. Nggak apa-apa,” jawabnya singkat. Aku tahu dia sebenarnya tidak setuju. Tapi, dia memilih diam karena dia juga ingin aku maju.

Ketika calon ibu mertuaku mendengar hal itu, seketika berubah perangainya. Dia berbaik-baik, menyuruhku untuk mencari uang yang banyak.
“Dasar perempuan tua munafik. Sudah tua nggak ingat dosa,” makiku dalam hati.

“Nanti, kalau sudah banyak uang kan bisa kirim-kirim uang buat Nina,” kata calon ibu mertuaku sambil tertawa
“Rasanya ingin kurontokkan saja giginya. Apalagi mau perempuan ini? Mau uangku? Dasar perempuan materialistis!” Tetap aku mencari-makinya dalam hati.

“Iya tante, doain saya ya,” jawabku menyembunyikan kejengkelan.
Pada hari keberangkatan, aku mengingatkan janjiku dulu pada perempuanku.

“Aku pasti pulang untuk menikahimu. Ingat itu ya?”
Perempuanku bersimpah air mata. Ahhh, andai saja dia bisa kubawa serta. Kuberikan padanya sepucuk surat yang sudah aku siapkan malam sebelumnya.

“Baca ini tiap kamu kangen sama aku ya, Sayang?” pintaku sebelum meninggalkannya. Sebab, panggilan terakhir untuk penumpang tujuan Dubai sudah terdengar. Tangisnya semakin histeris. Berat, aku meninggalkannya, tapi apa boleh buat. Toh, ini juga untuk kebaikannya. Dalam pesawat, aku berdoa, agar nasib baik dapat cepat mempertemukan aku dengan perempuanku.

NINA
Aku melangkah gontai keluar dari kamar, baru tiga jam lalu aku melepas kepergian laki-laki luar biasaku untuk pergi mencari kerja. Surat yang diberikan padaku belum kubaca karena pasti aku akan menangis lagi. Tapi, karena himpitan rasa rindu, akhirnya kubaca juga surat itu, sambil sebelumnya menyalakan televisi. Pelan-pelan, kubaca sambil mendengarkan berita di televisi…

“Pemirsa, pesawat Garuda Airlines jurusan Jakarta-Dubai mengalami kecelakaan setelah dua jam lepas landas dari bandana Soekarno-Hatta. Belum dapat dipastikan alasan pesawat tersebut jatuh. Tetapi, dikabarkan bahwa seluruh penumpang termasuk awak pesawat tidak dapat diselamatkan. Pihak Garuda Airlines menjelaskan….,” Aku mengangkat kepala, bergegas membesarkan volume televisi yang sekarang sedang mencantumkan nama-nama korban kecelakaan pesawat yang baru saja kudengar. Aku mengira sedang bermimpi ketika membaca nama Nata di sana.

Alexius Natanael, laki-laki, 24 tahun
Aku merasa bumi berputar 180 derajat. Aku berteriak histeris, melolong seperti hewan sedang disembelih. Dan kemudian semua gelap…

NATA
Aku dapat melihatnya membaca surat dariku. Aku melihatnya menitikkan air mata lagi. Aku melihatnya membesarkan volume televisi. Aku melihatnya berteriak histeris. Aku menghampirinya, membelai rambut yang tak bisa kubelai, mencium kening yang tak bisa kucium, memeluk tubuh yang tak tersentuh. Aku berbisik padanya… “Ahh perempuanku, maafkan aku hanya bisa sampai di sini menjagamu. Aku curna laki-laki biasa. Kau pukul aku akan berdarah. Aku cuma laki-laki biasa. Yang luar biasa adalah cintaku padamu perempuanku. Selamat tinggal, Sayang…”

{aQ ambil dari harian Jawa Pos yang di tulis : PelajarUK Petra Surabaya}

Baca Selengkapnya...